Porthos, salah satu musketeer Monsieur de Tréville, menarik perhatian dengan fisiknya yang sangat besar, kegemarannya pada pakaian, dan sifatnya yang menjalani hidup dengan antusiasme yang dangkal. Ia suka menginspirasi kekaguman pada orang lain, sedemikian rupa sehingga ia merancang bagian depan sabuk bahunya agar berkilau dan bagian belakangnya dari kulit untuk menciptakan ilusi bahwa itu berlapis emas. Ia kuat dan banyak bicara, tetapi ia membuktikan jiwa ksatria-nya dengan tanpa rasa takut memimpin dalam setiap pertarungan. Keberanian kekanak-kanakan yang ia tunjukkan saat memulai misi London adalah salah satu aspek paling dinamis dari tim tersebut.
Meskipun Porthos mengaku berasal dari asal-usul yang berakar kuat, ia menunjukkan banyak perilaku yang menunjukkan bahwa ia bukan seorang bangsawan besar, melainkan seseorang dari kelas bawah yang memiliki kegemaran akan kemakmuran. Uangnya habis dengan cepat, dan ia mendapatkannya dengan sama cepatnya. Ia tidak pernah bosan bercerita.
Seorang raksasa bertubuh tinggi, bahu lebar, yang menarik perhatian dengan kekuatannya. Pakaiannya umumnya mencolok (jubah beludru merah panjang, sabuk bahu bersulam emas).
Athos
Menghormatinya dengan tulus, menerima teguran-tegurannya dengan lapang dada.
Aramis
Keduanya umumnya berkarakter bertolak belakang; Porthos selalu mengejek khotbah-khotbahnya dan kisah-kisah cinta yang tak sanggup ia sembunyikan.
d'Artagnan
Meski awalnya rival, dalam waktu singkat ia menjadi saudara sedarahnya.